BEKASI.POJOKSATU.ID - Sejumlah pelajar dari SMA Negeri 9 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, menggelar aksi unjuk rasa di halaman sekolah pada Rabu, 4Juni 2025.
Aksi ini dipicu oleh dugaan adanya pungutan liar (pungli) yang diklaim dilakukan pihak sekolah dengan kedok sumbangan sukarela.
Salah satu siswa, Muhammad Rehan, mengungkapkan bahwa setiap siswa diminta membayar Rp500 ribu per tahun yang disebut sebagai sumbangan pembangunan gedung. Namun menurutnya, tidak ada kemajuan berarti dari kondisi gedung sekolah tersebut.
Baca Juga: Jadi Bisnis Lendir dan Miras, Warung dan Cafe Remang-remang di Bantaran Kalimalang Dibongkar
"Katanya untuk gedung, tapi sampai sekarang nggak ada perubahan," ujar Rehan kepada awak media.
Selain itu, setiap kelas juga diminta menyumbang Rp20 ribu per hari untuk pengadaan fasilitas pendingin ruangan. Sayangnya, hingga kini fasilitas tersebut tidak kunjung tersedia.
Siswa juga menyoroti buruknya fasilitas Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Mereka menyebut ruangan UKS hanya berisi meja, tanpa kursi maupun kasur.
Parahnya, obat-obatan tak tersedia dan sudah dua bulan tidak disuplai oleh pihak sekolah.
Baca Juga: Job Fair Bekasi Ricuh dan Viral, Pemkab tak Kapok Malah Siap Gelar Lagi dan Bakal Jadi Percontohan
"Biasanya kami, pengurus UKS, patungan pakai uang pribadi kalau ada siswa yang butuh obat. Dan itu tidak diganti oleh sekolah," tambah Rehan.
Aksi ini mencerminkan kekecewaan mendalam siswa terhadap pengelolaan dana dan fasilitas sekolah.
Para siswa berharap adanya transparansi dari pihak sekolah maupun tindakan dari dinas pendidikan setempat.




