BEKASI.POJOKSATU.id - Di tengah kuatnya pengaruh budaya populer dan hiburan digital, seorang dalang muda asal Bekasi justru memilih menapaki jalur tradisi. Reifaldi Aldiansyah Hidayat (20 tahun), pemuda asal Kampung Tegal, Desa Nagasari, Kecamatan Serangbaru, Kabupaten Bekasi, menunjukkan kecintaan mendalam terhadap seni pewayangan yang kini mulai ditinggalkan generasi muda.

Minat Reifaldi terhadap wayang tumbuh sejak masa kanak-kanak. Ketika anak-anak seusianya asyik bermain mainan modern, ia justru terbiasa mendengar alunan gamelan dan kisah wayang yang kerap dipentaskan dalam hajatan warga. Dari sekadar membeli wayang kecil di pedagang keliling, ketertarikannya berkembang menjadi keinginan serius untuk mendalami dunia pedalangan.

“Dulu belum ada YouTube, hiburan di kampung ya wayang. Awalnya cuma beli wayang kecil, lama-lama pengin punya yang besar seperti di panggung, terus kepikiran pengin bisa ngedalangan,” ujar Reifaldi, yang juga tercatat sebagai mahasiswa Universitas Pelita Bangsa, Selasa, 27 Januari 2026.

Baca Juga: Diskominfosantik Kabupaten Bekasi Terima Kunjungan Studi SMK Muhammadiyah Kuto Winangun Kebumen

Awalnya, wayang hanya menjadi koleksi pribadi. Namun seiring bertambahnya usia, ia mulai membayangkan dirinya berada di balik kelir, menghidupkan tokoh-tokoh pewayangan. Ia pun belajar secara mandiri dengan menonton VCD dan rekaman pertunjukan dalang yang tersedia.

Keseriusannya menekuni dunia pedalangan dimulai pada 2021. Pandemi COVID-19 yang membatasi aktivitas sekolah justru menjadi momentum bagi Reifaldi untuk memperdalam ilmu secara langsung kepada Dalang Entang Sunandar, dalang senior asal Karawang. “Belajarnya enggak lama, sekitar sebulan, tapi sampai sekarang kalau ada waktu saya masih sering ke sana,” tuturnya.

Menurut Reifaldi, menjadi dalang bukan hanya soal menggerakkan wayang, melainkan juga penguasaan karakter suara dan tembang. Tantangan terberat baginya adalah kakawen, karena setiap adegan memiliki tembang dan makna yang berbeda. “Dalang harus paham arti kakawen dan konteks adegannya,” jelasnya.

Sebagai dalang muda asal Bekasi, Reifaldi menyadari pentingnya inovasi agar wayang tetap diminati generasi muda. Ia memilih menonjolkan unsur guyonan dengan menyelipkan isu-isu viral dari media sosial ke dalam dialog, khususnya melalui tokoh punakawan dan raksasa, tanpa meninggalkan pakem cerita.

“Kalau ada yang lagi viral di TikTok, saya masukin ke dialog wayang, tentu disesuaikan dengan adegannya,” katanya.

Sejak aktif mendalang, Reifaldi kerap tampil dalam hajatan warga, peringatan hari besar, hingga acara Agustusan. Ia juga telah membentuk kelompok seni sendiri, meski belum memiliki padepokan tetap. Persaingan dengan dalang lain ia jalani secara sehat dan bertahap.

Baca Juga: Pemkab Bekasi Siap Ambil Alih Fasos Fasum Perumahan yang Ditinggal Pengembang

“Alhamdulillah dari 2021 sampai sekarang masih sering tampil, terutama saat musim hajatan,” ujarnya.

Dalam penguasaan cerita, Reifaldi mengaku telah memahami berbagai lakon dari tiga babak besar pewayangan, yakni Ramayana, Mahabharata, dan cerita purwa lainnya. Penguasaan ini memudahkannya menyesuaikan durasi dan kebutuhan pertunjukan.

“Tinggal menyesuaikan durasi, gamelan, dan kakawennya,” ucapnya.

Di luar dunia seni, Reifaldi menempuh pendidikan di Program Studi Bisnis Digital Universitas Pelita Bangsa. Ilmu tersebut ia pandang penting untuk menunjang pengelolaan dan promosi kelompok seni yang dirintisnya.

“Di bisnis digital ada manajemen promosi dan pemasaran, itu relevan untuk mengembangkan grup seni,” jelasnya.

Ia juga aktif berjejaring dengan dalang muda lain melalui Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), mengikuti latihan rutin dan pertemuan bulanan demi menjaga kualitas serta regenerasi dalang.

Reifaldi berharap pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bekasi memberi ruang lebih luas bagi seniman lokal untuk tampil dan berkembang.

“Kalau ada hajatan, jangan langsung cari dari luar daerah. Lihat dulu potensi seniman Bekasi,” harapnya.

Menurutnya, rendahnya minat generasi muda terhadap wayang menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, adaptasi dan kreativitas mutlak diperlukan.

“Wayang sering dianggap tontonan orang tua, makanya harus dikemas dengan hal-hal yang lagi tren,” ujarnya.

Baginya, kepuasan terbesar saat mendalang adalah ketika penonton tertawa dan menikmati pertunjukan.

“Kalau penonton dan nayaga ketawa, rasanya puas. Berarti pertunjukan berhasil,” katanya.

Reifaldi menegaskan, wayang bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya luhur bangsa yang harus dijaga. “Wayang itu warisan leluhur yang sudah diakui UNESCO. Kalau budaya hancur, martabat bangsa juga ikut hancur,” pungkasnya.