BEKASI.POJOKASATU.ID - Komitmen menjaga kerukunan umat beragama di Kabupaten Bekasi tidak hanya berdampak pada stabilitas sosial, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam mendukung iklim investasi di kawasan industri tersebut.
Hal ini ditegaskan Plt Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, saat memimpin rapat bersama perwakilan Huria Kristen Batak Protestan Perum Grand Cikarang Village di Gedung Bupati Bekasi, Selasa 10 Februari 2026.
Sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia, Kabupaten Bekasi dihuni ribuan perusahaan nasional dan multinasional.
Baca Juga: Daerah Industri dan Penuh Pendatang, Bekasi Perkuat Komitmen Toleransi
Stabilitas keamanan dan harmonisasi sosial menjadi faktor krusial dalam menjaga kepercayaan investor serta keberlanjutan pembangunan daerah.
Asep menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh menjamin kebebasan beribadah bagi seluruh warga tanpa diskriminasi.
Menurutnya, toleransi dan kondusivitas wilayah merupakan modal utama agar aktivitas ekonomi tetap berjalan optimal.
Baca Juga: Ancaman TPPO Mengintai, Disnaker Bekasi Tekankan Prosedur Resmi Kerja ke Luar Negeri
“Terkait rumah ibadah ini, Kabupaten Bekasi adalah kawasan yang sangat majemuk. Banyak pendatang datang dan hidup berdampingan di sini. Saya pastikan hari ini bahwa di Kabupaten Bekasi tidak ada intoleransi. Kita semua harus bisa beribadah dengan tenang dan khusyuk menurut agama masing-masing,” tegas Asep.
Ia menambahkan, pembangunan daerah tidak akan berjalan maksimal tanpa stabilitas sosial.
Oleh karena itu, setiap persoalan sosial keagamaan harus diselesaikan melalui dialog dan musyawarah dengan melibatkan seluruh unsur terkait, termasuk Forkopimda, tokoh agama, dan Forum Kerukunan Umat Beragama.
Baca Juga: Pemkab Bekasi Akui APBD Tak Cukup, Swasta Didorong Bangun Muaragembong
Dalam rapat tersebut, disepakati solusi sementara agar ibadah HKBP Perum Grand Cikarang Village dapat dilaksanakan di hotel setempat sambil menunggu pencarian lokasi yang dinilai aman dan sesuai regulasi.
Langkah ini diambil untuk memastikan kegiatan ibadah tetap berjalan tanpa menimbulkan gesekan sosial.
“Dari hasil rapat, kita putuskan untuk sementara ibadah dilakukan di hotel sambil kita bersama-sama mencari tempat yang aman dan nyaman,” jelasnya.
Menurut Asep, pendekatan dialogis dan kolaboratif menjadi strategi penting dalam menjaga kepercayaan publik dan dunia usaha.
Investor membutuhkan kepastian bahwa wilayah operasional mereka berada dalam situasi yang aman dan harmonis.
Baca Juga: 519 Lapak PKL Direlokasi, Pemkab Bekasi Tetapkan Pasar Baru Cikarang sebagai Lokasi Baru
Kehadiran unsur Kapolres Metro Bekasi, Kementerian Agama, Kesbangpol, FKUB, serta MUI dalam rapat tersebut menunjukkan komitmen bersama menjaga stabilitas daerah.
Dengan kolaborasi lintas sektor, diharapkan Kabupaten Bekasi terus menjadi kawasan industri yang kompetitif sekaligus harmonis.
Pemerintah Kabupaten Bekasi menilai, menjaga toleransi bukan sekadar kewajiban moral, tetapi juga strategi pembangunan.
Stabilitas sosial yang terpelihara akan memperkuat daya saing daerah dan membuka peluang investasi yang lebih luas di masa mendatang.***




