BEKASI.POJOKSATU.id - Bakal Calon Kepala Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Dedi Darip, menegaskan komitmennya untuk menjaga kelestarian lingkungan sebagai salah satu prioritas apabila dipercaya memimpin desa tersebut. Menurutnya, pelestarian alam menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dedi mengatakan, keinginannya maju pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) berangkat dari tekad mempertahankan keaslian dan keasrian Desa Kertarahayu agar tetap menjadi aset yang memiliki nilai ekonomi bagi warga.

"Saya ingin mempertahankan keaslian dan keasrian Desa Kertarahayu untuk potensi ekonomi kesejahteraan masyarakat. Yang paling dasar persoalan di Kertarahayu ini ialah soal lingkungan," kata Dedi.

Baca Juga: Kekeringan di Pebayuran Landa Ribuan Hektare Sawah, Petani Menderita

Ia menyoroti maraknya aktivitas galian tanah ilegal yang masih terjadi di wilayah tersebut. Padahal, Desa Kertarahayu telah ditetapkan sebagai kawasan zona hijau yang semestinya dilindungi dari aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

Menurut Dedi, jika terpilih sebagai kepala desa, ia akan menggandeng masyarakat untuk menghentikan praktik galian ilegal demi menjaga kelestarian alam.

"Saya ingin mencegah itu terus berlanjut. Ke depan saya ingin bersama masyarakat menghentikan kegiatan itu (galian ilegal) untuk mempertahankan keasrian alam Desa Kertarahayu," ujarnya.

Ia meyakini, menjaga kearifan lokal dan kelestarian lingkungan justru akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui sektor wisata yang berbasis alam dan budaya.

Baca Juga: Pemkab Bekasi Percepat Normalisasi Irigasi Pebayuran, Targetkan Pekerjaan Dimulai Pekan Depan

"Justru pencegahan kerusakan alam di Desa Kertarahayu itu adalah endingnya kita membuat Desa Kertarahayu lebih menarik lagi dengan menggali potensi yang ada," katanya.

Berbekal pengalaman selama delapan tahun menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kertarahayu, Dedi mengaku turut mendorong pengembangan desa wisata bersama pemerintah desa. Ia juga dikenal aktif menyuarakan penolakan terhadap aktivitas galian tanah ilegal.

Meski Desa Kertarahayu telah memiliki citra sebagai desa wisata, Dedi menilai manfaat ekonomi dari sektor tersebut masih perlu diperluas agar dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya pengelola objek wisata.

"Branding Desa Wisata memang sudah dikenal di masyarakat. Yang belum tercapai bagi saya, bagaimana branding Desa Wisata ini, selain bermanfaat untuk pengelola atau pemilik wisata juga bermanfaat untuk masyarakat," tutupnya.***