BEKASI.POJOKSATU.ID – Rufaidha Lathiifunnisa (22 tahun), salah satu korban meninggal dalam insiden kebakaran di Gedung Terra Drone pada Selasa lalu, ternyata sempat menyampaikan keinginannya untuk berhenti bekerja pada tahun ini.
Hal itu diungkapkan orang tuanya saat ditemui di kediaman mereka di Perumahan Depsos, Kelurahan Telagaasih, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.
Ayah korban, Fachrudin Irwan (52 tahun), menjelaskan bahwa putrinya masih menjalani masa pelatihan selama kurang lebih tiga bulan di Terra Drone Indonesia.
Meski baru menjalani training, Rufaidha sebelumnya pernah bercerita kepada ibunya bahwa ia berencana mengundurkan diri pada akhir Desember 2025.
Baca Juga: Korban Kebakaran Gedung Terra Drone Indonesia: Warga Cikarang Barat Dimakamkan di Cibitung
“Dia mau resign bulan-bulan ini,” ujar Irwan kepada wartawan, Kamis, 11 Desember 2025.
Irwan mengatakan, selain mengalami luka akibat paparan panas pada bagian wajah, kondisi tubuh korban lainnya relatif utuh. Namun, ia menyebut penyebab utama kematian putrinya adalah kekurangan oksigen saat terjebak di dalam gedung.
“Penyebab meninggal itu 90 persen karena kekurangan oksigen dan ada luka yang terpapar di bagian wajah,” jelasnya.
Keluarga pertama kali mendapat kabar mengenai kondisi Rufaidha dari seorang teman korban yang berada di Malang. Tak lama kemudian, pihak perusahaan juga menghubungi keluarga melalui ponsel milik ibunya.
Mendapatkan informasi tersebut, keluarga segera menuju RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. Pencocokan dilakukan melalui ciri fisik dan aksesoris yang dikenakan korban.
“Saat di RS Kramatjati, kami mengenali dari tanda tahi lalat di pipi dan beberapa aksesoris berwarna biru yang memang menjadi kesukaannya,” terang Irwan.
Rufaidha diketahui terjebak di lantai lima bersama beberapa rekan kerja saat kebakaran terjadi, sehingga tidak sempat menyelamatkan diri.***




