BEKASI.POJOKSATU.ID - BPBD Kabupaten Bekasi mengingatkan para petani untuk mulai beradaptasi menghadapi musim kemarau 2026 dengan mengubah pola tanam dan memilih varietas yang tahan terhadap kekeringan.

Imbauan ini disampaikan menyusul prediksi musim kemarau yang akan berlangsung pada periode April hingga Juni, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi sektor pertanian jika tidak diantisipasi sejak dini.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengatakan bahwa perubahan musim yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi para petani.

Baca Juga: 13 Pelaku Tawuran di Babelan Ditangkap, Polisi Amankan Senjata Tajam dan Motor

“Secara prediksi kita mulai memasuki musim kemarau, namun kondisi di lapangan saat ini masih terdapat hujan di sejumlah wilayah. Karena itu masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Pemkab Bekasi, 15 April 2026.

Menurutnya, kondisi pancaroba seperti saat ini justru dapat memicu ketidakpastian dalam pola tanam.

Oleh karena itu, petani diminta lebih cermat dalam menentukan waktu tanam serta memilih jenis tanaman yang lebih tahan terhadap minimnya pasokan air.

Selain penggunaan varietas tahan kekeringan, BPBD juga mendorong optimalisasi pengelolaan sumber air sebagai langkah strategis menjaga produktivitas pertanian.

Baca Juga: Fleksibilitas WFH Diuji, DPRD Bekasi Ingatkan Kinerja Tetap Maksimal Meski Agenda Dikurangi

Hal ini penting untuk memastikan ketahanan pangan tetap terjaga meski menghadapi kondisi cuaca ekstrem.

“Langkah-langkah ini penting untuk mengurangi risiko kekeringan serta menjaga ketahanan air dan pangan di tengah perubahan musim,” kata Dodi.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memperparah kondisi lingkungan, seperti pembakaran lahan atau sampah yang dapat memicu kebakaran saat musim kering.

BPBD menilai bahwa kesiapsiagaan sektor pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Tanpa adaptasi yang tepat, risiko gagal panen dan penurunan hasil produksi dapat terjadi.

Selain itu, petani juga diharapkan dapat mengikuti perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi agar dapat menyesuaikan strategi pertanian secara lebih akurat.

Dengan langkah adaptasi ini, diharapkan sektor pertanian di Kabupaten Bekasi tetap mampu bertahan di tengah ancaman musim kemarau.

Pemerintah pun terus mendorong sinergi antara masyarakat dan berbagai pihak untuk memperkuat ketahanan pangan di daerah.***