BEKASI.POJOKSATU.ID - Penutupan gedung SDN 03 Ciledug akibat proyek Tol Jakarta-Cikampek II Selatan menyisakan persoalan serius dalam kebijakan relokasi pendidikan di Kabupaten Bekasi.

Hingga kini, pemerintah daerah mengakui belum menetapkan lokasi pengganti permanen bagi sekolah dasar tersebut, sementara ratusan siswa terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di sekolah tumpangan.

Sejak gedung SDN 03 Ciledug ditutup total, aktivitas belajar siswa dipindahkan sementara ke SMPN 5 Setu.

Baca Juga: Tak Sekadar Jembatan, Pedestrian Kalimalang Diperindah dengan Anggaran Rp30 Miliar

Relokasi ini dilakukan tanpa kejelasan batas waktu, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan wali murid terkait keberlanjutan dan kualitas pendidikan anak-anak mereka.

Yuli (39), wali murid kelas 1 SD, mengaku harus menempuh jarak hampir tiga kilometer setiap hari demi mengantar anaknya ke sekolah tumpangan.

Menurutnya, kondisi ini menjadi beban tambahan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Baca Juga: Tiga Warga Bekasi Dipulangkan dari Kamboja, Alarm Bahaya Kerja Ilegal di Luar Negeri

“Saya jalan kaki dari rumah jam 11 lewat, sampai sekolah jam 12-an. Supaya cepat, saya lewat makam untuk memotong jalan,” ujar Yuli, Senin 9 Februari 2026.

Ia mengatakan, ketidakpastian lokasi sekolah pengganti membuat para orang tua hanya bisa pasrah.

“Kami nggak tahu sampai kapan begini. Katanya sementara, tapi sekolah lama sudah ditutup,” ucapnya.

Baca Juga: Sepasang Sejoli Diamankan Usai Diduga Buang Bayi di Apartemen Mutiara Bekasi

Keluhan serupa disampaikan Ika (34), wali murid lainnya. Selain jarak yang jauh, ia menilai fasilitas belajar di sekolah tumpangan belum sepenuhnya siap menampung siswa SD.

“Satu kelas itu ada 27 anak, tapi karena digabung pakai sekat, satu ruangan besar bisa sampai 50 anak lebih. Satu meja harus dipakai buat tiga orang anak,” kata Ika.

Ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian lokasi sekolah pengganti agar anak-anak bisa kembali belajar di lingkungan yang layak dan dekat dengan tempat tinggal.

“Dulu waktu masih di gedung lama, jalan kaki cuma lima menit sudah sampai,” kenangnya.

Di sisi lain, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Bekasi, Hudaya, menyatakan bahwa proses belajar mengajar masih berjalan normal meski dilakukan di lokasi sementara.

Baca Juga: BKM Diminta Fokus Rutilahu, Sanitasi dan Taman Lingkungan Dukung Bekasi Sehat

Namun, ia mengakui bahwa penetapan lokasi pengganti SDN 03 Ciledug masih dalam tahap penilaian.

“Saat ini kegiatan belajar mengajar berjalan normal. Pagi hari dipakai SMP, siangnya sampai sore dipakai SD,” kata Hudaya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah masih mengkaji sejumlah opsi untuk relokasi permanen sekolah tersebut.

Meski demikian, belum ada kepastian kapan lokasi baru akan ditetapkan dan dibangun.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan kebijakan relokasi pendidikan dalam proyek infrastruktur besar.

Wali murid berharap, pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memastikan hak anak atas pendidikan yang aman, layak, dan berkelanjutan tetap menjadi prioritas.***