BEKASI, POJOKSATU.id - Kehadiran Bendung Sungai Hulu (BSH-0) mengakhiri tradisi berat yang selama bertahun-tahun dialami para petani di wilayah utara Kabupaten Bekasi. Jika sebelumnya petani harus berswadayaserta bergotong royong memasang cerucuk bambu dan batu kali untuk membendung aliran air saat musim kemarau, kini pasokan irigasi mengalir lancar hingga ke petak-petak persawahan.

Manfaat nyata ini dirasakan langsung oleh puluhan kelompok tani di Kecamatan Sukakarya yang mengelola lahan persawahan seluas 3.767 hektare. Kelancaran distribusi air melalui Kali Srengseng Hilir membuat kawasan yang dulunya rawan kekeringan, seperti Kampung Gamprit, Pulo Sirih, dan Gempol Payung, kini dapat menggelar musim tanam secara serempak.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Sukakarya, Mulyana (44 tahun), mengungkapkan rasa syukurnya atas berfungsinya infrastruktur penyokong pertanian tersebut.

“Sekarang, meskipun musim kemarau, pasokan air tetap lancar dan masuk ke area persawahan. Petani bisa tanam serempak karena debit air sudah dapat diatur sehingga kebutuhan irigasi terpenuhi,” kata Mulyana.

“Alhamdulillah, sekarang air sudah masuk ke sawah. Tanam bisa dilakukan secara bersamaan, tanaman padi tumbuh hijau, dan gangguan hama yang kami rasakan juga tidak banyak. Ini sangat membantu petani,” ujarnya.

Dengan jaminan ketersediaan air dari Bendung BSH-0, petani Sukakarya kini berpeluang mengoptimalkan produktivitas hingga tiga kali masa tanam dalam setahun. Sebagai ungkapan rasa syukur atas pasokan air yang melimpah, para petani bahkan menggelar tradisi selamatan musim tanam bersama.

“Air yang cukup membuat petani lebih tenang menjalani musim tanam. Kami berterima kasih karena kebutuhan air sawah kini lebih terpenuhi. Bahkan, petani menggelar selamatan musim tanam sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran pasokan air,” pungkasnya.