BEKASI.POJOKSATU.ID - Sebuah video yang diunggah akun Instagram kspi_citu mendadak viral dan memantik perbincangan luas di media sosial.
Video tersebut menampilkan pernyataan Ketua DPW FSPMI–KSPI Jawa Barat, Suparno, yang secara terbuka mengungkapkan kekecewaan serikat buruh terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM.
Dalam video tersebut, Suparno menegaskan bahwa dirinya bukan sekadar simpatisan, melainkan pernah menjadi bagian penting dalam pemenangan Dedi Mulyadi pada Pilgub Jawa Barat.
Baca Juga: DPRD Bekasi Semprot Satgas Ketenagakerjaan, Pengawasan TKA Dinilai Amburadul
Ia menyebut menjabat sebagai Wakil Ketua Tim Pemenangan, sehingga keterlibatannya bersama serikat buruh bersifat aktif dan strategis.
“Saat pencalonan Dedi Mulyadi jadi Gubernur Jawa Barat, saya sebagai Wakil Ketua Pemenangan. Jadi kami bukan hanya pendukung, bukan hanya simpatisan,” ujar Suparno dalam video yang diunggah Kamis 1 Januari 2026.
Pernyataan itu kemudian berlanjut pada kritik terhadap janji-janji kampanye yang dinilai tidak terealisasi setelah Dedi Mulyadi terpilih sebagai gubernur.
Baca Juga: Ribuan Non ASN Jadi PPPK, Kekurangan Guru dan Dokter Masih Menghantui Bekasi
Salah satu yang disorot adalah komitmen kesejahteraan buruh, termasuk penerapan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK).
“Janji-janji Dedi Mulyadi dulu mau membuat sejahtera buruh di Jawa Barat, mau menerapkan UMSK sebagaimana mestinya. Nggak ada satu pun yang terbukti,” katanya.
Video tersebut menjadi viral karena memuat narasi perubahan sikap buruh yang sebelumnya menjadi pendukung, kini berbalik menyuarakan kekecewaan.
Baca Juga: Serikat Buruh Kecewa, Janji Kesejahteraan Dedi Mulyadi Dinilai Tak Terbukti
Suparno juga menceritakan perannya selama masa kampanye, di mana ia mengaku berkeliling hampir ke seluruh wilayah industri dan basis buruh di Jawa Barat untuk menggalang dukungan.
“Hampir semua kabupaten/kota yang berbasis buruh, saya putar, saya sosialisasi, saya buat video-video untuk bagaimana mendukung. Alhamdulillah hampir semuanya wilayah basis buruh, Dedi Mulyadi menang,” tuturnya.
Namun, setelah kemenangan diraih, Suparno menilai relasi antara gubernur dan buruh justru merenggang.
Ia menyebut Dedi Mulyadi dinilai tidak membuka ruang dialog dengan pimpinan serikat buruh, sehingga aspirasi pekerja tidak tersampaikan.
“Tapi setelah menang ternyata menyakiti hati buruh. Tidak mau ketemu sama pimpinan-pimpinan buruh, tidak mau mendengarkan masukan dari buruh,” pungkasnya.
Baca Juga: Kasus Suap Ijon Proyek Bekasi, Peneliti Minta KPK Tak Sekadar Lempar Isu
Unggahan video tersebut menuai beragam respons dari warganet.
Sebagian menyatakan dukungan terhadap sikap kritis buruh, sementara lainnya menilai pernyataan itu sebagai bentuk kekecewaan politik pascakontestasi.
Terlepas dari pro dan kontra, viralnya video ini menunjukkan media sosial kini menjadi ruang utama bagi kelompok masyarakat.
Untuk menyampaikan opini publik dan melakukan kontrol sosial terhadap pemimpin daerah.***




