BEKASI.POJOKSATU.id – Di tengah pesatnya modernisasi dan kemajuan teknologi, seorang penjual barang antik di Kota Bekasi bernama Kelvin (42 tahun) tetap setia menekuni jual beli benda-benda lawas bernilai sejarah.
Ia mempertahankan eksistensi barang antik sebagai bagian dari warisan budaya yang tak lekang oleh zaman.
Toko kecil milik Kelvin yang diberi nama Kel Vintage berada di sebuah gang di Jalan Profesor Moh Yamin, Kelinci No. 40, Kelurahan Durenjaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Meski tersembunyi, tempat ini menyimpan ratusan koleksi antik yang merekam perjalanan sejarah lintas generasi.
Baca Juga: Wisata Air Kalimalang Dinilai Mampu Dongkrak Perekonomian Kota Bekasi
Kelvin menuturkan bahwa usaha barang antik tersebut telah dirintis sejak 1999 dan berawal dari bisnis orang tuanya. Ketertarikannya pada dunia antik bahkan sudah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku SMP.
“Awalnya usaha orang tua. Saya ikut hunting, ikut pameran, jaga stand, sampai melayani pembeli. Dari situ saya belajar,” ujar Kelvin kepada bekasi.pojoksatu.id, Senin, 5 Januari 2026.
Kini, Kelvin bersama keluarganya merawat ratusan benda lawas, mulai dari keramik, enamel, guci, hingga perabot vintage yang ditata rapi di dalam galeri. Kel Vintage bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang pertemuan antara nostalgia, sejarah, dan kehidupan masa kini.
Nama Kel Vintage sendiri diambil dari nama Kelvin yang dipadukan dengan kata “vintage” untuk menegaskan identitas koleksi antik yang dipasarkan.
Sebelumnya, usaha ini sempat berlokasi di kawasan sekitar Hotel Amarossa, Kota Bekasi, sebelum akhirnya berpindah dan menetap di rumah orang tuanya yang kini berfungsi sebagai galeri sekaligus kafe.
“Sekarang saya mulai membangun branding lewat e-commerce. Nama usaha ini terinspirasi dari nama saya sendiri, lalu dikombinasikan dengan kata vintage agar kesan antiknya kuat,” jelasnya.
Baca Juga: Dua Tahun Gagal Penuhi Target, Mahasiswa Kritik Pengelolaan Pajak Bekasi
Sebagai penjual barang antik di Kota Bekasi, Kelvin mengaku mulai serius menggeluti dunia ini sejak usia 22 tahun dan telah menjalani bisnis tersebut hampir dua dekade.
Fokus utamanya bukan hanya menjual, tetapi juga mengumpulkan serta melestarikan artefak sejarah dan budaya.
Selama perjalanan usahanya, Kelvin aktif mengikuti berbagai pameran barang antik di sejumlah daerah. Dari sana, ia banyak berinteraksi dengan kolektor, pemerhati budaya, hingga figur publik yang tertarik pada koleksi-koleksi lawas.
Koleksi Kel Vintage meliputi perabot dan keramik antik seperti mangkuk, gentong, piring, guci enamel, serta benda berbahan tembaga, perunggu, kuningan, dan terakota.
Artefak yang dimiliki berasal dari era 1970–1980-an hingga benda yang dikaitkan dengan Dinasti Tiongkok dan Kerajaan Majapahit.
Namun demikian, Kelvin mengakui bahwa pasar barang antik saat ini tidak seramai dua dekade lalu. Menurutnya, masa keemasan perdagangan barang antik terjadi pada pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an, sebelum era digital berkembang pesat.
“Kalau sekarang memang jauh lebih sepi. Ekonomi juga berpengaruh, hunting barang jadi berkurang. Tapi stok lama masih banyak, ratusan juga,” ungkapnya.
Baca Juga: Tak Bisa Lagi Andalkan Cara Lama, DPRD Bekasi Desak Inovasi Pajak Daerah
Kel Vintage lebih memprioritaskan barang-barang dengan nilai sejarah lokal dan cenderung menghindari produk impor. Sebagian besar koleksinya merupakan hasil buruan dari wilayah Jabodetabek dan Pulau Jawa.
Harga barang antik pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung usia, jenis, dan kondisinya.
Meski demikian, tidak semua koleksi ditujukan untuk dijual. Beberapa di antaranya memiliki nilai emosional tersendiri bagi Kelvin.
“Ada barang yang punya nilai nostalgia pribadi. Kalau ada yang nawar tinggi ya bisa dilepas, tapi kalau enggak, saya simpan untuk display,” tuturnya.
Pengunjung galeri Kel Vintage pun datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Selain kolektor, tempat ini juga kerap menjadi ruang berkumpul warga sekitar untuk makan siang, berfoto, dan menikmati suasana bernuansa vintage.
Keberadaan Kelvin sebagai penjual barang antik di Kota Bekasi menjadi bukti bahwa di tengah arus modernisasi, masih ada ruang bagi sejarah dan nostalgia untuk terus hidup dan diapresiasi oleh generasi masa kini.***




