BEKASI.POJOKSATU.ID - Keberhasilan pengoperasian sistem sanitary landfill di Tempat Pembuangan Akhir Sumur Batu, Kota Bekasi, tidak hanya bergantung pada teknologi pengelolaan sampah yang lebih modern, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi menegaskan bahwa partisipasi warga menjadi faktor penentu agar sistem baru ini dapat berjalan berkelanjutan.

Pelaksana Tugas Sekretaris DLH Kota Bekasi, Andy Frengky, menyatakan pemerintah daerah terus menggencarkan edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga.

Baca Juga: Fenomena Cerai Gugat Meningkat, Istri Dominasi Perkara Perceraian di Bekasi

Upaya ini dilakukan untuk menekan volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus memperpanjang usia landfill yang kini telah beroperasi sejak akhir Januari 2026.

“Kami dorong masyarakat mulai memilah sampah dari rumah dan mengurangi penggunaan bahan sekali pakai. Tanpa peran warga, sistem sebaik apa pun tidak akan optimal,” ujar Andy, 3 Februari 2026.

Menurutnya, pemilahan sampah di sumber akan memudahkan proses pengelolaan di hilir.

Baca Juga: Akses Utama Dilalui Truk Berat, Trotoar Ambles di Narogong Belum Juga Diperbaiki

Sampah organik dapat diolah, sementara sampah anorganik bernilai ekonomi bisa dimanfaatkan melalui bank sampah.

Dengan begitu, hanya sampah residu yang benar-benar tidak bisa diolah lagi yang diangkut ke TPA.

DLH juga menaruh perhatian besar pada pengurangan penggunaan sampah sekali pakai, terutama plastik.

Baca Juga: Sanitary Landfill Tak Cukup, Bank Sampah Dinilai Penentu Masa Depan TPA Sumur Batu

Kebiasaan konsumsi yang masih tinggi dinilai menjadi salah satu penyumbang utama volume sampah harian Kota Bekasi yang mencapai sekitar 1.800 ton per hari.

Pegiat lingkungan Sony Teguh Trilaksono menilai perubahan perilaku masyarakat merupakan tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah perkotaan.

Menurutnya, selama warga masih bergantung pada pola buang sampah tanpa pemilahan, TPA akan terus berada di ambang krisis.

“Kesuksesan landfill ini sangat bergantung pada perilaku warga. Kalau tidak ada pemilahan dari rumah, tetap saja cepat penuh,” kata Sony.

Ia menambahkan, edukasi harus dilakukan secara konsisten dan menyentuh tingkat paling bawah, seperti RT dan RW.

Baca Juga: Berkali-kali Jebol, Tanggul Darurat di Muara Gembong Kian Mengkhawatirkan

Dengan keterlibatan aktif masyarakat, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan bersama.

“Kesadaran harus dibangun dari rumah. Mulai dari memilah, mengurangi sampah sekali pakai, sampai memanfaatkan bank sampah,” tegasnya.

Pemkot Bekasi berharap perubahan perilaku warga dapat sejalan dengan pembenahan sistem di TPA Sumur Batu.

Pemerintah menilai, kombinasi antara teknologi, kebijakan, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci untuk mencegah terulangnya persoalan gunungan sampah yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan.

Ke depan, DLH berencana memperluas program edukasi dan kolaborasi dengan komunitas lingkungan agar pemilahan sampah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Dengan keterlibatan warga, pengelolaan sampah di Kota Bekasi diharapkan bergerak menuju sistem yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan.***