BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir setinggi dua meter yang merendam permukiman warga Gang Mawar, Margahayu, Bekasi Timur, memang telah surut pada Kamis 12 Februari 2026 pagi.
Namun, ancaman belum sepenuhnya berlalu. Lumpur setinggi sekitar 30 sentimeter kini menutup akses jalan dan halaman rumah warga, memicu kekhawatiran akan risiko kesehatan pascabanjir.
Tumpukan lumpur hampir selutut orang dewasa itu menyulitkan aktivitas warga.
Baca Juga: Banjir Gila-Gilaan Rendam Ribuan Hektare Sawah Bekasi, Petani Terancam Gagal Panen
Selain licin dan berbau, kondisi tersebut berpotensi menjadi sarang kuman dan bakteri yang dapat memicu penyakit kulit hingga infeksi saluran pencernaan jika tidak segera dibersihkan.
Ketua RT 08/RW 03, Ridwan, menjelaskan bahwa banjir terjadi akibat kiriman air dari hulu Bogor.
Meski wilayahnya tidak diguyur hujan, luapan Kali Bekasi tetap merendam pemukiman dengan ketinggian air mencapai dua meter.
Baca Juga: Warga Perbatasan Harap Waspada! Revisi Batas Bisa Pengaruhi Data KTP dan Hak Pilih
“Air sudah mulai surut, tapi lumpur menumpuk hampir selutut betis orang dewasa. Kami membutuhkan bantuan untuk menyemprot dan membersihkan lingkungan,” ujarnya.
Sekitar 120 kepala keluarga terdampak dalam peristiwa ini. Sebagian warga terpaksa mengungsi, sementara lainnya memilih bertahan di rumah yang memiliki lantai dua.
Kini, meski air sudah surut, warga harus berjibaku membersihkan lumpur tebal yang masuk ke dalam rumah.
Baca Juga: Demi Kekhusyukan Puasa, MUI Bekasi Desak Tempat Hiburan Malam Hentikan Aktivitas
Kondisi lingkungan yang dipenuhi lumpur meningkatkan risiko munculnya penyakit kulit seperti gatal-gatal dan infeksi akibat paparan air kotor.
Selain itu, genangan sisa dan sampah yang terbawa banjir dapat memicu berkembangnya bakteri maupun serangga pembawa penyakit.
Warga berharap ada bantuan penyemprotan disinfektan dan dukungan sanitasi dari pemerintah agar lingkungan kembali bersih dan aman.
Tanpa penanganan cepat, lumpur yang mengering dapat berubah menjadi debu kotor yang terhirup dan memicu gangguan pernapasan.
Selain ancaman kesehatan, aktivitas warga juga terganggu. Jalan lingkungan yang tertutup lumpur membuat mobilitas terbatas dan berisiko menyebabkan terpeleset.
Baca Juga: Arus Kendaraan Terganggu, Pengerukan Kali Demi Bekasi Bebas Genangan
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini.
Ridwan menegaskan, warga juga berharap ada langkah jangka panjang untuk mencegah banjir berulang.
“Harapan kami, normalisasi dan tanggul segera direalisasikan agar kami tidak kebanjiran lagi,” tambahnya.
Baca Juga: Jelang Hujan Puncak, Pemkot Bekasi Antisipasi Banjir di Teluk Pucung
Banjir kiriman dari Bogor yang kembali meluap ke Kali Bekasi menjadi pengingat bahwa persoalan tidak berhenti saat air surut.
Pascabanjir, ancaman kesehatan dan sanitasi justru menjadi tantangan berikutnya.
Warga Gang Mawar kini menunggu respons cepat pemerintah, tidak hanya untuk membersihkan lumpur, tetapi juga memastikan lingkungan kembali layak dan aman dihuni.***




