BEKASI.POJOKSATU.ID - Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, para pengusaha di Kota Bekasi memilih langkah bertahan dengan menahan pemutusan hubungan kerja.

Efisiensi menjadi strategi utama untuk menjaga stabilitas perusahaan sekaligus mempertahankan tenaga kerja.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Kota Bekasi, Farid Elhakamy, mengungkapkan bahwa saat ini pelaku usaha tengah melakukan penyesuaian besar dalam operasional perusahaan.

Langkah tersebut diambil sebagai respons atas kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, meskipun sempat muncul optimisme setelah kabar gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Rapat Krusial Ganti Rugi Korban SPBE Bekasi Gagal Total, Perusahaan Tak Hadir Tepat Waktu

“Saat ini semua mulai melakukan efisiensi, terutama dengan mengurangi kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan produksi, marketing, dan distribusi,” ujarnya.

Efisiensi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengurangan aktivitas internal seperti rapat-rapat hingga menekan berbagai kegiatan perkantoran yang dinilai tidak mendesak.

Langkah ini dianggap sebagai cara paling realistis untuk menjaga keberlangsungan usaha tanpa harus mengambil keputusan ekstrem.

Farid menegaskan, PHK masih menjadi opsi terakhir yang sangat dihindari oleh para pengusaha.

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Isi Dua Jabatan Strategis, Dorong Birokrasi Lebih Cepat dan Responsif Layani Warga

Selama perusahaan masih mampu bertahan dengan berbagai langkah penghematan, maka keberlangsungan tenaga kerja tetap menjadi prioritas.

“Selama perusahaan masih bisa bertahan dengan efisiensi, kami akan menahan diri untuk tidak melakukan PHK. Itu pilihan terakhir,” tegasnya.

Menurutnya, menjaga tenaga kerja bukan hanya soal tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.

Kehilangan pekerja terampil justru bisa menjadi kerugian lebih besar ketika kondisi ekonomi kembali membaik.

Meski demikian, ia mengakui bahwa situasi global masih menyisakan ketidakpastian yang cukup tinggi.

Harapan akan stabilitas harga komoditas dan iklim usaha yang lebih kondusif belum sepenuhnya terwujud.

“Awalnya ada optimisme, tapi situasi belum benar-benar kondusif. Ketidakpastian masih tinggi,” tandasnya.

Baca Juga: Pemilik Usaha Tenda Tewas di Ruang Tamu, Ditemukan Luka Pada Bagian Kepala

Langkah menahan PHK ini menjadi angin segar bagi para pekerja di tengah kekhawatiran akan gelombang pemutusan hubungan kerja akibat tekanan ekonomi.

Di sisi lain, strategi efisiensi yang diterapkan juga menunjukkan upaya dunia usaha untuk tetap adaptif menghadapi dinamika global.

Dengan kondisi yang masih fluktuatif, para pengusaha berharap situasi segera membaik sehingga aktivitas bisnis dapat kembali berjalan normal tanpa harus mengorbankan tenaga kerja.

Hingga saat itu tiba, efisiensi menjadi benteng utama untuk bertahan di tengah ketidakpastian.***