BEKASI.POJOKSATU.id -  Terganggunya operasional KRL pascainsiden tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin, 27 April 2026, malam berdampak langsung pada aktivitas para penumpang, khususnya di jalur menuju Cikarang.

Sejak Selasa, 28 April 2026, penumpang terpaksa mencari alternatif transportasi lain. Perjalanan yang biasanya cepat dan murah kini menjadi lebih mahal serta melelahkan karena harus berganti moda transportasi beberapa kali.

Salah satu warga Cikampek, Ibnu Taimiyah (52), mengaku biaya yang dikeluarkan meningkat signifikan dibanding hari biasa.

“Biasanya cuma Rp6 ribu, sekarang bisa sampai Rp10 ribu bahkan Rp28 ribu sekali jalan. Jauh banget bedanya,” ujarnya saat ditemui, Kamis, 30 April 2026.

 Baca Juga: Jalur KA Bekasi Timur Kembali Dibuka, Perjalanan Jarak Jauh Beroperasi Bertahap

Untuk berangkat kerja, Ibnu kini harus menempuh perjalanan lebih panjang, mulai dari kereta lokal ke Cikarang, dilanjutkan Trans Wibawamukti, hingga angkutan kota menuju Bekasi. Saat pulang, biaya yang dikeluarkan bahkan lebih besar.

“Lebih mahal, lebih capek juga karena harus pindah-pindah kendaraan,” tambahnya.

Di tengah keluhan para penumpang, kondisi ini justru menjadi keuntungan bagi sopir angkutan kota. Di sekitar Stasiun Bekasi, deretan angkot Elf terlihat ramai mengangkut penumpang yang tidak lagi terlayani KRL.

Heru (24), salah satu sopir Elf, mengungkapkan lonjakan penumpang terjadi sejak gangguan KRL berlangsung.

“Sejak kemarin ramai terus, dari pagi sampai malam,” katanya.

Baca Juga: Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, DPR Dorong Pemerintah Ambil Alih Perlintasan

Ia menyebut, setiap kedatangan kereta, beberapa unit angkot langsung terisi penuh dengan jumlah penumpang mencapai 15 hingga 20 orang, meningkat dari kondisi normal.

“Kalau normal paling sepuluh orang, karena masih bersaing sama KRL dan bus,” jelasnya.

Tarif angkot pun menyesuaikan jarak tempuh. Untuk rute Bekasi–Cikarang, ongkos tertinggi bisa mencapai Rp25 ribu per orang.

Sebagai upaya mengurangi kepadatan, pemerintah turut menyediakan layanan shuttle bus yang melayani rute hingga Bulak Kapal selama operasional KRL masih terbatas di Stasiun Bekasi.

Meski demikian, para penumpang berharap kondisi transportasi segera pulih agar biaya perjalanan kembali normal dan aktivitas sehari-hari tidak lagi terganggu.