BEKASI.POJOKSATU.ID - Rencana penerapan kebijakan work from home satu hari dalam sepekan untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak kembali menuai sorotan.

Kali ini, dunia industri menilai kebijakan tersebut berpotensi menurunkan produktivitas, khususnya di sektor manufaktur yang sangat bergantung pada kehadiran fisik tenaga kerja.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menyebut bahwa kebijakan WFH tidak bisa diterapkan secara merata di semua sektor.

Menurutnya, sektor manufaktur memiliki karakteristik berbeda dibanding sektor administrasi atau perkantoran.

Baca Juga: Polisi Selidiki Kematian Pria dalam Freezer di Bekasi, Warga Ungkap Sosok Korban

“WFH tidak cocok untuk sektor manufaktur karena proses produksi membutuhkan kehadiran langsung pekerja di lapangan,” ujarnya, dikutip dari Radar Bekasi, 29 Maret 2026.

Ia menegaskan, jika kebijakan tersebut dipaksakan, maka berpotensi menurunkan kinerja industri secara keseluruhan.

Hal ini lantaran proses produksi tidak bisa berjalan optimal tanpa keterlibatan langsung tenaga kerja.

Selain itu, kebijakan WFH juga dinilai dapat mengganggu ritme operasional perusahaan yang sudah dirancang secara terstruktur.

Baca Juga: Polisi Selidiki Kasus Mayat Bayi di Kedungwaringin, CCTV Disisir untuk Ungkap Pelaku

Dalam industri manufaktur, setiap tahapan produksi saling berkaitan dan membutuhkan koordinasi yang konsisten.

Ketua Apindo Kota Bekasi, Farid Elhakamy, turut menyuarakan kekhawatirannya terhadap dampak kebijakan tersebut.

Ia menilai penerapan WFH tidak relevan bagi dunia usaha, terutama sektor industri.

“Aturan seperti ini tentunya tidak mengikat pihak swasta, karena kita memposisikan biaya transportasi itu dalam budgeting kita, jadi tidak perlu direspons serius,” ungkap Farid.

Menurutnya, perusahaan sudah memiliki perhitungan matang terkait operasional, termasuk biaya transportasi karyawan.

Sehingga, kebijakan WFH tidak serta-merta memberikan keuntungan bagi dunia usaha.

Di sisi lain, Fahmy juga mengingatkan bahwa tujuan awal kebijakan untuk menghemat BBM belum tentu tercapai.

Ia menilai, tanpa pengawasan yang ketat, pekerja justru bisa memanfaatkan WFH untuk aktivitas lain di luar rumah.

Baca Juga: Arus Balik Lebaran Semakin Deras, Jasa Marga Optimalkan Gardu Tol dan Buka Jalur Alternatif

“Barangkali ASN dan pekerja swasta tidak kerja di rumah, tetapi Work From Everywhere di tempat wisata sehingga konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan,” jelasnya.

Kondisi ini dinilai berbeda dengan masa pandemi Covid-19, di mana WFH berjalan efektif karena adanya pembatasan aktivitas secara ketat.

Tanpa faktor tersebut, implementasi WFH saat ini dinilai akan menghadapi banyak tantangan.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, dunia industri berharap pemerintah dapat mengkaji ulang kebijakan WFH secara lebih komprehensif.

Jangan sampai kebijakan yang bertujuan efisiensi justru berdampak pada penurunan produktivitas dan kinerja sektor industri yang menjadi tulang punggung ekonomi.***