BEKASI.POJOKSATU.id – Masyarakat diajak lebih bijak menggunakan dan mengelola baterai bekas untuk mengurangi timbulan limbah elektronik (e-waste) yang berpotensi berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan.

Ajakan tersebut disampaikan AZKO, brand di bawah naungan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (AHI), dengan mendorong masyarakat memilih baterai rechargeable, memaksimalkan masa pakai, serta menyalurkan baterai yang sudah tidak digunakan melalui jalur pengelolaan yang tepat.

Head of Corporate Communications & Sustainability PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk, Melinda Pudjo, mengatakan pengelolaan produk perlu diperhatikan hingga akhir masa penggunaannya.

“Bagi kami, komitmen keberlanjutan berarti bertanggung jawab atas produk yang kami hadirkan, tidak hanya saat digunakan, tetapi hingga akhir masa pakainya,” kata Melinda, Minggu 23 Agustus 2026.

Menurut dia, masyarakat juga perlu diberikan akses untuk mengelola perangkat elektronik yang sudah tidak terpakai.

“Karena itu, kami berupaya menghadirkan pilihan produk yang membantu masyarakat menggunakannya secara lebih bijak,” ujarnya.

Melinda mengatakan AZKO juga menyediakan fasilitas penyaluran sampah elektronik melalui program BISA BAIK atau Bersama Atasi Sampah Barang Elektronik.

“Kami juga menyediakan akses penyaluran bagi perangkat elektronik yang sudah tidak terpakai melalui BISA BAIK dengan AZKO,” katanya.

Baca Juga : 12 Sekolah di Kabupaten Bekasi Dapat Proyek Pembangunan dan Rehabilitasi, Anggaran Capai Rp111 Miliar

Program tersebut telah berjalan sejak 2023 dan menyediakan dropbox di 24 toko AZKO yang tersebar di 17 kota.

“Melalui upaya ini, kami ingin mendorong kesadaran dan kebiasaan yang lebih bertanggung jawab, baik dari sisi konsumen maupun kami sebagai penyedia produk,” ujar Melinda.

Selain menyalurkan baterai bekas, masyarakat dapat mengurangi limbah dengan memilih baterai rechargeable. Salah satunya KRISBOW Baterai Rechargeable AA Set 4 pcs dengan kapasitas 2.500 mAh.

Penggunaan baterai yang dapat diisi ulang dinilai dapat membantu mengurangi frekuensi pembelian baterai sekali pakai.

Masyarakat juga disarankan memeriksa kondisi baterai sebelum menggantinya. Langkah tersebut dapat dilakukan menggunakan baterai tester untuk memastikan baterai masih dapat digunakan atau sudah perlu diganti.

Baterai yang sudah tidak terpakai perlu dipilah karena termasuk limbah elektronik yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).

“Melalui pengelolaan yang tepat, masyarakat dapat memulai langkah sederhana untuk turut menjaga kesehatan dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” kata Melinda.***