BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir yang melanda Jakarta Barat dan merendam 47 RT tidak bisa dilepaskan dari kondisi wilayah penyangga di sekitarnya, termasuk Bekasi.

Luapan Kali Angke dan Kali Pesanggrahan yang menjadi penyebab utama banjir di Jakarta Barat menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara daerah hulu dan hilir dalam sistem pengendalian banjir Jabodetabek.

BPBD DKI Jakarta mencatat, dari total 86 RT yang masih terendam banjir di ibu kota, sebanyak 47 RT berada di Jakarta Barat.

Baca Juga: Menteri PU Janji Tuntaskan Banjir Bekasi, Tak Mau Terulang Lagi

Wilayah ini menjadi yang paling terdampak akibat curah hujan tinggi yang diperparah luapan sungai.

Namun, aliran sungai-sungai tersebut juga dipengaruhi kondisi wilayah hulu, salah satunya Bekasi, yang turut mengalami hujan intens dalam periode yang sama.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menjelaskan bahwa banjir di Jakarta Barat tidak berdiri sendiri.

Baca Juga: OMC Bukan Sekadar Tebar Awan, Ini Teknologi Pengendalian Cuaca yang Dipakai DKI

“Banjir paling luas terjadi di Jakarta Barat dengan total 47 RT terdampak. Penyebab utamanya curah hujan tinggi serta luapan Kali Angke dan Kali Pesanggrahan,” ujarnya.

Menurut Yohan, aliran air dari wilayah sekitar Jakarta, termasuk Bekasi, sangat memengaruhi debit sungai di bagian hilir.

Sejumlah kelurahan di Jakarta Barat seperti Duri Kosambi, Kapuk, Kedaung Kali Angke, Rawa Buaya, Jelambar, Kedoya Selatan dan Utara, serta Kembangan Selatan dan Utara terdampak genangan dengan ketinggian air 15 sentimeter hingga 1,5 meter.

Baca Juga: Tembok Lembap Bikin Cat Rusak, Ini Solusi Agar Cat Rumah Awet

Kondisi ini kerap terjadi saat wilayah hulu mengalami hujan deras secara bersamaan, sehingga daya tampung sungai di hilir tidak lagi optimal.

Bekasi sendiri diketahui menjadi salah satu daerah yang menerima hujan lebat dalam beberapa hari terakhir.

Posisi geografis Bekasi yang berada di hulu sejumlah aliran sungai membuat wilayah ini berperan penting dalam pengendalian banjir Jakarta.

Ketika curah hujan tinggi terjadi di Bekasi dan sekitarnya, volume air yang mengalir menuju Jakarta Barat meningkat signifikan.

BPBD DKI bersama pemerintah pusat dan daerah penyangga kini menekankan pentingnya pendekatan regional dalam penanganan banjir.

Baca Juga: Hujan Masih Turun, Warga Diminta Waspada Longsor Lanjutan di Bandung Barat

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan di wilayah Bekasi menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi potensi hujan di daerah hulu.

“Pelaksanaan penyemaian awan difokuskan pada wilayah Bekasi dan sekitarnya untuk menekan potensi hujan yang berdampak ke Jakarta,” kata Yohan.

Selain permukiman, banjir juga merendam delapan ruas jalan, mayoritas di Jakarta Barat, seperti Jalan Daan Mogot dan Jalan Kembangan Raya.

Baca Juga: Belum Ada Bantuan dari Pemkab Bekasi, Kades Muarabakti Soroti Janji Kecamatan Babelan ke Korban Banjir

Ratusan warga terpaksa mengungsi ke posko-posko darurat. Kondisi ini memperkuat urgensi pemetaan risiko banjir berbasis kawasan, bukan hanya administratif.

Para ahli kebencanaan menilai, banjir Jakarta tidak akan tertangani secara optimal tanpa perbaikan sistem hulu–hilir yang melibatkan Bekasi dan wilayah Jabodetabek lainnya.

Penataan sungai, pengendalian alih fungsi lahan, serta koordinasi lintas daerah menjadi kunci agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan.***