BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir yang kembali merendam SMPN 4 Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, membuka kembali persoalan klasik terkait tata kelola lingkungan dan infrastruktur permukiman.
Tidak hanya faktor cuaca ekstrem, buruknya sistem drainase di sekitar sekolah dinilai menjadi pemicu utama genangan air yang melumpuhkan aktivitas belajar mengajar.
Banjir mulai menggenangi lingkungan sekolah sejak Minggu 18 Januari dan hingga Senin 19 Januari 2026 belum sepenuhnya surut.
Baca Juga: Berbulan-bulan Beroperasi, Polisi Bongkar Oplosan Elpiji Sejak Oktober 2025
Ketinggian air bervariasi, mulai dari 30 sentimeter di area gerbang hingga hampir setinggi paha orang dewasa di bagian belakang sekolah.
Akibatnya, pihak sekolah terpaksa memberlakukan pembelajaran jarak jauh bagi seluruh siswa demi alasan keselamatan.
Kepala SMPN 4 Cikarang Barat, Deary Ratnaningsih, mengatakan banjir kali ini berdampak signifikan terhadap fasilitas sekolah.
Baca Juga: Sekolah Terendam Lagi, Orang Tua Murid SMPN 4 Cikarang Barat Desak Perbaikan Drainase
"Berdasarkan pendataan, ada 29 ruang kelas yang terendam, termasuk ruang guru, tata usaha, dan ruang kepala sekolah. Semua perabot ikut terdampak," ujarnya.
Total sebanyak 1.032 siswa harus mengikuti kegiatan belajar mengajar secara daring.
Menurut Deary, pembelajaran tatap muka baru akan kembali dilakukan setelah kondisi sekolah benar-benar aman.
Baca Juga: HUT ke-17 Radar Bekasi, Tri Adhianto Apresiasi Peran Media Lokal dalam Demokrasi Daerah
"Kami tidak ingin mengambil risiko. Masih ada genangan dan potensi bahaya bagi siswa jika dipaksakan masuk sekolah," katanya.
Fenomena banjir di sekolah tersebut bukan kali pertama terjadi.
Sejumlah wali murid menilai persoalan ini merupakan dampak dari kombinasi curah hujan tinggi dan sistem drainase lingkungan yang tidak memadai.
Saputra (43), salah satu orang tua siswa, mengaku khawatir dengan keselamatan anaknya jika harus beraktivitas di sekolah saat kondisi belum sepenuhnya pulih.
"Kalau airnya tinggi itu bahaya. Setelah surut pun masih ada sisa-sisa seperti keong yang tajam. Yang penting anak-anak tetap belajar meski daring," ucapnya.
Baca Juga: Roots Day di SMPN 17 Bekasi, Pemkot Tegaskan Komitmen Cegah Perundungan di Sekolah
Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret.
"Harapannya ada perhatian serius untuk memperbaiki drainase. Jangan tiap hujan besar, sekolah selalu jadi korban. Bisa juga melibatkan pihak swasta lewat CSR," katanya.
Secara lingkungan, kawasan Cikarang Barat memang dikenal rentan banjir.
Alih fungsi lahan, padatnya permukiman, serta saluran air yang sempit dan tersumbat membuat air hujan sulit mengalir.
Ketika intensitas hujan meningkat akibat cuaca ekstrem, genangan pun tak terhindarkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan banjir di sekolah tidak bisa dilihat sebagai insiden semata, melainkan cerminan masalah tata ruang dan infrastruktur yang belum tertangani optimal.
Tanpa perbaikan drainase dan pengelolaan lingkungan yang menyeluruh, ancaman banjir dikhawatirkan akan terus berulang dan mengganggu hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan layak.***




