BEKASI.POJOKSATU.ID - Di tengah pesatnya pembangunan kawasan industri di Cikarang, Kabupaten Bekasi, terdapat sebuah jalur alternatif yang diam-diam menjadi urat nadi mobilitas ribuan pekerja setiap hari.

Warga menyebutnya “Terowongan Sapi”, sebuah lorong beton di Desa Pasirtanjung, Kecamatan Cikarang Pusat, yang kini menjelma menjadi jalur tikus penyelamat dari kemacetan parah di Jalan Tegal Danas.

Terowongan ini menghubungkan Jalan Inspeksi Kalimalang dengan kawasan Deltamas hingga Desa Sukamahi.

Baca Juga: Dari Sawah dan Kambing ke Deru Mesin Pabrik, Transformasi Dramatis Terowongan Sapi di Jantung Industri Bekasi

Bagi pekerja yang menuju kawasan industri seperti Greenland International Industrial Center (GIIC), jalur ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan harus memutar melalui simpang Tegal Danas yang kerap padat pada jam berangkat dan pulang kerja.

Pantauan di lokasi menunjukkan arus kendaraan roda dua mendominasi jalur tersebut, terutama pada pagi dan sore hari.

Meski kondisi jalannya masih berupa tanah, berbukit, dan minim penerangan, banyak pengendara tetap memilih melintas demi menghemat waktu tempuh.

Baca Juga: Dari Anak-Anak hingga Ibu-Ibu, 500 Warga Kalijaya Kompak Nyalakan Obor Sambut Ramadan 1447 H

“Kalau lewat sini bisa pangkas waktu sampai 20 menit. Bayangkan kalau harus lewat Tegal Danas saat jam berangkat atau pulang kantor, macetnya luar biasa,” ujar Muhammad Aji (36).

Aji yang berdomisili di Karawang mengaku Terowongan Sapi sudah menjadi rute andalannya menuju GIIC.

Menurutnya, kemacetan di Jalan Tegal Danas kerap tak bergerak hingga puluhan menit, terutama ketika volume kendaraan industri dan truk logistik meningkat.

Baca Juga: Belum Ada Laporan Korban, Polisi Tetap Usut Kasus Begal Payudara di Cikarang

“Pengalaman saya pernah kejebak macet sampai 30 menit enggak bergerak. Kalau lewat sini memang jalannya kurang bagus, tapi lancar,” katanya.

Namun, ketergantungan pekerja terhadap jalur alternatif ini juga mengandung risiko. Saat musim hujan, permukaan tanah menjadi licin dan berubah menjadi kubangan lumpur.

Kondisi tersebut membuat sebagian pengendara memilih kembali ke jalur utama meski harus menghadapi kemacetan.

“Kalau musim hujan saya enggak berani lewat sini, licin banget. Terpaksa lewat Tegal Danas tapi harus berangkat lebih pagi,” tambah Aji.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana infrastruktur informal kerap menjadi solusi spontan atas persoalan transportasi di kawasan industri.

Baca Juga: 350 Jamaah Padati Masjid Al Manar di Malam Pertama Tarawih 1447 H

Di satu sisi, keberadaan Terowongan Sapi membantu memperlancar mobilitas pekerja dan mengurangi beban lalu lintas di jalur utama.

Namun di sisi lain, kondisi jalannya yang belum memadai menimbulkan pertanyaan soal keselamatan dan perencanaan transportasi kawasan industri yang terus berkembang.

Dengan pertumbuhan kawasan industri yang semakin pesat, kebutuhan akan akses jalan yang layak dan terintegrasi menjadi semakin mendesak.

Baca Juga: Kapolres Pimpin Sertijab Pejabat Utama Polres Metro Bekasi Kota, Sejumlah Posisi Strategis Berganti

Terowongan Sapi mungkin hanyalah jalur alternatif sederhana, tetapi bagi ribuan pekerja, lorong ini adalah penyelamat waktu dan energi setiap hari.

Di balik megahnya pabrik dan gedung perkantoran, jalur tanah ini menjadi bukti bahwa mobilitas pekerja industri sering kali bertumpu pada akses yang belum sepenuhnya tertata.

Terowongan Sapi kini bukan sekadar jalan tikus, melainkan simbol kebutuhan mendesak akan infrastruktur transportasi yang lebih responsif terhadap pertumbuhan kawasan industri Cikarang.***