BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi hingga memasuki minggu kedua membawa dampak besar bagi masyarakat Jabodetabek, khususnya di kawasan utara Bekasi.

Data BPBD Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 48.449 jiwa terdampak bencana hidrometeorologi, dengan 1.270 jiwa di antaranya terpaksa mengungsi ke 16 titik pengungsian.

Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi menerapkan sistem layanan kesehatan jemput bola guna menjangkau warga secara langsung di lokasi banjir dan pengungsian.

Baca Juga: Warga Bekasi-Jakarta Barat Bernapas Lega, MRT Timur-Barat Siap Dibangun 2026

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Supriadinata, mengatakan banjir tahun ini tergolong luar biasa karena cakupan wilayah dan durasinya cukup panjang.

Untuk itu, pihaknya memastikan layanan kesehatan tidak hanya menunggu warga datang, tetapi aktif mendatangi masyarakat terdampak.

“Banjir tahun ini memang cukup luar biasa. Kami fokus memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan membentuk pos-pos kesehatan dan menurunkan tim medis langsung ke wilayah terdampak,” ujarnya, 1 Februari 2026.

Baca Juga: Hujan Lebat Berhari-hari, BMKG Imbau Warga Antisipasi Dampak Cuaca Ekstrem

Wilayah prioritas penanganan meliputi Kecamatan Babelan, Tarumajaya, Muaragembong, Sukawangi, hingga Pebayuran.

Seluruh Puskesmas di Kabupaten Bekasi tetap beroperasi selama 24 jam dengan sistem bergiliran.

Tim medis dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing beranggotakan tenaga kesehatan dari empat hingga lima Puskesmas untuk memantau kondisi warga secara berkala.

Baca Juga: Dinkes Bekasi Fokus Pengawasan Sanitasi dan Distribusi Makan Bergizi Gratis di Sekolah

“Kami menerapkan sistem jemput bola. Petugas turun langsung ke titik banjir dan pengungsian, tidak hanya menunggu warga datang ke Puskesmas,” jelas Supriadinata.

Selain pelayanan pengobatan, penyuluhan kesehatan juga dilakukan untuk mencegah munculnya penyakit pascabanjir.

Dari hasil pemantauan di lapangan, penyakit yang paling banyak ditemukan adalah penyakit kulit dan gangguan saluran pernapasan.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau lebih waspada terhadap penggunaan air bersih serta risiko penyakit berbasis lingkungan.

“Kami mengingatkan warga agar memastikan air minum benar-benar bersih dan mewaspadai penyakit seperti leptospirosis dan infeksi kulit,” katanya.

Baca Juga: 8 Lokasi Jabodetabek Disulap Jadi Set Film Extraction: Tygo, Ada Lisa BLACKPINK

Upaya pelayanan kesehatan ini diperkuat dengan kegiatan bakti sosial yang melibatkan sekitar 33 organisasi profesi kesehatan, termasuk Ikatan Dokter Indonesia.

Langkah tersebut dilakukan untuk menambah tenaga medis di lapangan dan mempercepat penanganan warga terdampak.

Sementara itu, BPBD Kabupaten Bekasi mencatat total 210 kejadian bencana hidrometeorologi di 48 desa pada 15 kecamatan.

Baca Juga: Jakarta Tak Bisa Sendiri, Operasi Pekat Jaya Awasi Bekasi, Depok, dan Tangerang

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.

“Kami mengimbau masyarakat segera melaporkan kondisi darurat melalui kanal resmi BPBD agar bisa segera ditangani,” ujarnya.

Dengan luasnya wilayah terdampak dan puluhan ribu warga yang terimbas, kolaborasi lintas sektor serta layanan kesehatan aktif menjadi kunci.

Guna menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat Jabodetabek di tengah bencana banjir yang belum sepenuhnya surut.***