BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir yang merendam SDN Hurip Jaya 02, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, selama empat hari terakhir tidak hanya menghentikan aktivitas belajar mengajar, tetapi juga menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas sekolah.

Hingga Selasa 13 Januari 2026, genangan air setinggi 30 hingga 40 sentimeter masih menguasai halaman sekolah, ruang kelas, hingga ruang guru di lantai satu.

Kepala SDN Hurip Jaya 02, Wahyudin, mengungkapkan bahwa kondisi banjir membuat hampir seluruh perabot kelas terdampak.

Baca Juga: Kuliner Bekasi Makin Menggila, Ini 5 Makanan yang Lagi Hits di 2026

Meja dan kursi siswa terlihat mengambang mengikuti arus air yang masuk ke dalam ruangan.

Kondisi paling memprihatinkan terjadi di bangunan kelas lama yang masih menggunakan perabot berbahan kayu.

"Air sudah masuk ke semua ruang kelas di lantai bawah. Meja dan kursi banyak yang mengapung, terutama yang berbahan kayu. Kalau terlalu lama terendam, pasti rusak," ujar Wahyudin, dikutip dari Radar Bekasi, 14 Januari 2026.

Baca Juga: Investasi Tinggi, DPRD Bekasi Tekankan Manfaat Nyata bagi Tenaga Kerja Lokal

Ia menjelaskan, banjir yang bertahan berhari-hari membuat sekolah tidak memiliki pilihan selain meliburkan kegiatan belajar mengajar.

Sebanyak 130 siswa terpaksa belajar dari rumah meski sebagian besar tempat tinggal mereka juga terdampak banjir.

"Kami sudah empat hari terendam banjir. Anak-anak terpaksa kami liburkan dan belajar dari rumah. Padahal rumah mereka pun ikut kebanjiran," katanya.

Baca Juga: 311 Ribu Peserta PBI Pemda Bekasi Berpeluang Dialihkan ke APBN, APBD Bisa Hemat Rp141 Miliar

Selain genangan air, kerusakan fasilitas diperparah oleh kondisi bangunan lama sekolah yang atapnya bocor.

Saat hujan turun, air tidak hanya datang dari luapan banjir, tetapi juga dari atas bangunan, membuat ruang kelas semakin basah dan lembap.

"Atap kelas lama memang sudah bocor. Jadi meski banjirnya nanti surut, air hujan tetap masuk. Ini yang membuat kondisi ruang kelas makin parah," ucap Wahyudin.

Menurutnya, sejumlah perabot sekolah berpotensi tidak bisa digunakan kembali jika banjir tidak segera surut.

Kayu yang terlalu lama terendam dikhawatirkan lapuk, sementara peralatan belajar seperti buku dan arsip sekolah terancam rusak.

Baca Juga: Alternatif Mahasiswa Mengajar Dinilai Gagal Atasi Kekurangan Guru di Bekasi

Pihak sekolah berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah terkait kondisi tersebut.

Selain penanganan banjir di wilayah Babelan, Wahyudin juga berharap adanya bantuan untuk perbaikan fasilitas sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.

"Kami berharap ada solusi jangka panjang, bukan hanya untuk banjirnya, tapi juga perbaikan fasilitas sekolah. Anak-anak butuh ruang belajar yang aman dan layak," ujarnya.

Banjir yang terus berulang di kawasan Babelan kembali menunjukkan kerentanan infrastruktur pendidikan di wilayah rawan genangan.

Jika tidak ditangani secara menyeluruh, bukan hanya proses belajar yang terganggu, tetapi juga aset pendidikan yang rusak dan merugikan masa depan siswa.***