BEKASI.POJOKSATU.ID - Lesunya daya beli masyarakat mulai menunjukkan dampak nyata terhadap iklim investasi di Kota Bekasi.
Realisasi penanaman modal pada 2025 tercatat mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi daerah, terutama pada sektor perdagangan dan jasa yang selama ini menjadi salah satu penopang utama.
Baca Juga: Jasa Marga Rekonstruksi Jalan di Tol Cipularang, Akses GT Kalitama 6 Arah Jakarta Ditutup Sementara
Anggota Komisi I DPRD Kota Bekasi, Dariyanto, mengungkapkan bahwa turunnya investasi tidak hanya dipicu selesainya sejumlah proyek strategis nasional, tetapi juga karena melemahnya konsumsi masyarakat.
Dampaknya terlihat langsung di lapangan, salah satunya dengan tutupnya pusat perbelanjaan.
“Karena sebelumnya masih banyak proyek strategis nasional yang berjalan. Sekarang hampir semuanya selesai. Ditambah menurunnya daya beli masyarakat, contohnya ada mal yang tutup,” ujar Dariyanto, Rabu 11 Februari 2026.
Baca Juga: PN Cikarang Eksekusi Lahan Bersertipikat, SHM Jadi Penentu Kemenangan
Penutupan pusat perbelanjaan menjadi indikator nyata bahwa sektor ritel sedang menghadapi tekanan.
Ketika daya beli menurun, perputaran uang di pusat konsumsi otomatis melambat.
Tenant kehilangan pelanggan, omzet menurun, hingga akhirnya tidak mampu bertahan.
Baca Juga: 70 Warga Teluk Pucung Mengungsi, Banjir Dini Hari Rendam Bekasi hingga 180 Cm
Situasi ini turut memengaruhi persepsi investor terhadap prospek bisnis di Bekasi.
Hubungan antara daya beli dan investasi memang saling berkaitan erat.
Konsumsi rumah tangga merupakan motor penggerak ekonomi daerah. Jika belanja masyarakat melemah, maka sektor perdagangan, jasa, hingga properti ikut terdampak.
Investor pun cenderung menahan ekspansi karena melihat pasar yang tidak cukup kuat untuk menyerap produk maupun layanan mereka.
Menurut Dariyanto, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat investor lebih berhati-hati dalam menanamkan modalnya.
Baca Juga: Perumahan Mewah Terendam, Warga Mengungsi: Alarm Keras Tata Kelola Drainase Bekasi
“Kondisi ekonomi yang belum stabil tentu menjadi pertimbangan investor. Mereka melihat daya beli masyarakat sebagai salah satu indikator utama,” tegasnya.
Bekasi sebagai kota penyangga ibu kota selama ini dikenal sebagai kawasan industri dan perdagangan yang dinamis.
Namun jika tren penurunan investasi terus berlanjut, dampaknya bisa meluas pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Baca Juga: Luapan Kali Bekasi Rendam Ratusan Rumah di Margahayu, Warga Evakuasi Barang
DPRD pun mendorong Pemerintah Kota Bekasi segera merumuskan langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor sekaligus mendongkrak daya beli masyarakat.
Tahun 2026 diharapkan menjadi momentum kebangkitan agar sektor perdagangan dan jasa kembali bergairah.
“Kita berharap pemerintah bisa meningkatkan kembali investasi, fokus lagi menggenjot realisasi penanaman modal,” kata Dariyanto.
Dengan tantangan yang ada, strategi penguatan sektor ritel, pemberian insentif investasi, hingga penciptaan iklim usaha yang kondusif dinilai menjadi kunci.
Tanpa langkah cepat dan terukur, lesunya konsumsi masyarakat berpotensi terus menekan arus investasi di Kota Bekasi.***




