BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir yang kembali merendam SDN Hurip Jaya 02, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, membuka persoalan serius terkait kesiapsiagaan sekolah menghadapi bencana.
Selama empat hari terakhir, genangan air setinggi 30 hingga 40 sentimeter belum juga surut, memaksa kegiatan belajar mengajar dihentikan dan 130 siswa harus belajar dari rumah.
Kondisi tersebut menunjukkan belum adanya sistem mitigasi bencana yang memadai di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Kuliner Bekasi Makin Menggila, Ini 5 Makanan yang Lagi Hits di 2026
Air dengan mudah masuk ke halaman, ruang kelas, hingga ruang guru di lantai satu tanpa adanya pengamanan khusus atau jalur evakuasi yang terencana untuk menghadapi banjir yang kerap terjadi di wilayah Babelan.
Kepala SDN Hurip Jaya 02, Wahyudin, mengakui pihak sekolah belum memiliki sistem mitigasi bencana yang terstruktur.
Selama ini, sekolah hanya bisa bersikap reaktif setiap kali banjir datang.
Baca Juga: Investasi Tinggi, DPRD Bekasi Tekankan Manfaat Nyata bagi Tenaga Kerja Lokal
"Kalau banjir datang seperti ini, kami hanya bisa meliburkan anak-anak. Belum ada sistem atau fasilitas khusus untuk mengantisipasi banjir yang sering terjadi," ujar Wahyudin, Selasa 13 Januari 2026.
Ia mengatakan, banjir yang berulang tidak hanya mengganggu proses pendidikan, tetapi juga mengancam keselamatan siswa dan guru.
Ruang kelas yang terendam serta kondisi bangunan lama yang rawan membuat aktivitas sekolah tidak mungkin dilanjutkan saat banjir terjadi.
Baca Juga: 311 Ribu Peserta PBI Pemda Bekasi Berpeluang Dialihkan ke APBN, APBD Bisa Hemat Rp141 Miliar
"Yang kami khawatirkan bukan hanya soal belajar mengajar, tapi juga keselamatan. Air masuk ke ruang kelas, perabot mengapung, dan bangunan lama atapnya bocor," katanya.
Menurut Wahyudin, sekolah sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk penanganan banjir di wilayah sekitar maupun penguatan sistem mitigasi bencana di lingkungan sekolah.
Ia berharap ada langkah nyata seperti peninggian lantai kelas, perbaikan drainase, hingga penyusunan prosedur darurat bagi sekolah rawan banjir.
"Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah. Sekolah-sekolah di daerah rawan banjir seperti ini perlu sistem mitigasi yang jelas agar tidak selalu jadi korban setiap musim hujan," ujarnya.
Kondisi siswa pun menjadi perhatian tersendiri. Banyak dari mereka yang tidak hanya kehilangan akses belajar di sekolah, tetapi juga terdampak banjir di rumah masing-masing.
Baca Juga: Alternatif Mahasiswa Mengajar Dinilai Gagal Atasi Kekurangan Guru di Bekasi
Hal ini berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran jika tidak segera diantisipasi.
Peristiwa banjir di SDN Hurip Jaya 02 menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana di satuan pendidikan, terutama di wilayah rawan genangan.
Tanpa dukungan infrastruktur dan kebijakan mitigasi yang memadai, sekolah akan terus berada dalam posisi rentan, dan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang aman dan berkelanjutan terancam terabaikan.***




